Saturday, July 21, 2007

Teruntuk Sahabat


Selembar kebahagiaan melayang
Lalu mendarat di pinggir malam
Dan menjelma puisi
Tentang dua anak manusia, Tuhan dan cinta
Secercah fajar menebar sasmita
Pagi pun tersenyum
Hari pun bernyanyi
(Nurfahmi T. El-Shaab, Tentang pernikahan)
Untuk sahabatku :
Abdul Fatah dan Murti Ayu Wijayanti
yang telah menggenapkan separuh dien-nya pada hari Jum'at, 20 Juli 2007
"Baarakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fi khair"

Sunday, July 8, 2007

“Kecewa….wajar !! Tdk sesuai harapan…mgkn terjadi ?!? Tp d wilayah inilah semua ego-individu harus luruh dalam kebijakan jama’i. Siapapun dia. Karna smua bermuara pada kepentingan ummat, skali lagi ummat. Bukan individu, bkn kelompok atw kepentingan sesaat. Kita hrs yakin bahwa kejayaan milik islam. Tp momentum kemenangan adalah rahasiaNya, kapankah ?!?!? Mgkn bkn thn ini, mgkn bkn thn depan atau bahkan melampawi batas usia keberadaan kita dalam civitas akademika. Realita bkn t4 kt mengeluh, kekecewaan bkn pula ruang mencari ‘kambing hitam’, tetapi d sanalah sarat tambang hikmah yg bernilai berlian. Jln perjuangan msh panjang. Bth stok kesabaran dan keberanian utk berbuat. Bth stok support dan tggung jawab. Bth stok semangat dan pengorbanan. Bth stok tsiqoh dan husnudhzan yg pada akhirnya mengingatkan kita bahwa kekuatan bkn terletak pada individu tp menggumpal pd kolektivitas jama’i. “tangan Allah di atas jama’ah”-Abdullah bin mas’ud-“
Sesaat layar Hp saya menyala, berbunyi beep dua kali. Berturut-turut sebanyak 6 papan. Sederetan pesan di atas saya baca satu persatu. Sederetan pesan dari seorang saudara seperjuangan. Pesan penguatan dari seorang amir kepada jundi dan jundiyahnya. Seperti yang dia katakan, sarat akan hikmah yang bernilai berlian.
Hari ini adalah hari kedua perjuangan itu. Namun, apa yang menurut kita baik belum tentu baik pula menurut Dia, Penggenggam jiwa-jiwa manusia. PadaNya letak seluruh pilihan yang terbaik. Manusia hanya bisa merencanakan, berharap, berusaha, namun tetap Allah jua yang akan memberikan pilihan terbaik itu. Begitulah yang terjadi. Kemenangan itu memang belum saatnya kami raih. Entah kapan. Seperti sms yang saya baca, apakah satu tahun atau dua tahun lagi? Atau bahkan melampaui batas usia civitas akademika, kita tidak tahu itu. Kemenangan hanyalah rahasia Allah. Kemenangan akan sebuah cahaya kebenaran.
Tahukah anda tentang kisah-kisah Rasulullah saw bersama para sahabat dan sahabiyahnya di saat perjuangan dahulu? Kisah yang menceritakan kepada kita bahwa walaupun para sahabat dan sahabiyah memiliki keputusan sendiri, pandangan sendiri, namun tetap keputusan jama’ah muslimin adalah keputusan yang harus dilaksanakan. Seperti layaknya ketika kaum muhajirin hendak hijrah ke Madinah, banyak para sahabat yang ingin menemani Rasulullah saw, namun keputusan itu diambil Rasulullah saw dengan bijak, siapa saja yang akan membantu beliau dalam peristiwa hijrah tersebut. Begitu juga kisah-kisah lainnya, ketika Rasulullah saw menunjuk seorang sahabat yang masih sangat muda belia untuk menjadi panglima perang, sementara masih banyak sahabat lainnya yang lebih faham dan berpengalaman dalam memimpin peperangan. Namun begitulah adanya sebuah jama’ah, keputusan jama’i menjadi sebuah keputusan yang harus diterima setelah ego individu kita bermain di sana.
Ketika sebuah keputusan yang diambil secara kolektif, maka apapun ego individu yang ada pada diri kita, semuanya luruh hanya dalam bingkai jama’i. Itulah substansi dari amal jama’i sesungguhnya. Seluruh ruang gerak kita hanyalah untuk kepentingan ummat, bukan individu atau bahkan kelompok. Sungguh, ketika hanya kepentingan umat yang kita fikirkan, maka keputusan jama’i itu menjadi sebuah penggerak yang hanya bisa dijalankan oleh orang-orang yang ikhlas dan rela berkorban. Walau terkadang terbersit dalam benak kita kekecewaan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan, namun itulah hakikat dari sebuah keputusan majelis. Diterima dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat.
Ya, kemenangan itu memang belum saatnya diraih, mungkin Allah masih ingin menguji kesabaran dan keteguhan kita dalam menjalani risalah dakwah ini. Mungkin Allah masih menyeleksi orang-orang yang mampu bertahan untuk kemudian menjadi orang-orang terpilih dalam makarNya. Karena Allah adalah sebaik-baik pembuat makar. Atau bisa jadi, Allah punya rahasia lain untuk fakultas teknik nantinya, rahasia yang kita tidak tahu apa itu.
Dalam hidup ini, kita butuh kekuatan hati yang berlapis-lapis. Seorang ustadz Muhammad Qutb berkata bahwa kita harus memiliki berlapis-lapis stok sifat kebaikan. Stok kesabaran, lapang dada, husnudzhan, ikhlas, dan sebagainya. Jika lapis pertama kesabaran tembus, maka masih ada lapis kedua, jika lapis kedua tembus, maka masih ada stok kesabaran lapis ketiga. Namun jika stok kesabaran terakhir sudah tembus, maka kita keluarkan lapis pertama stok keikhlasan, demikianlah seterusnya, tanpa habis-habis. Karena pada intinya hidup ini adalah sebuah perjuangan. Kalau kata seorang saudara yang lain lagi, hidup kita ini adalah sebuah perjuangan tiada henti, jangan pernah menyerah, sampai kelelahan lelah mengejar kita. Subhanallah.
(Dari seorang saudara seperjuangan)
NB : Untuk saudara-saudaraku, ikhwan dan akhwat di Kampus IAIN “SMH” Banten. Bersabarlah dan yakinlah bahwa sesungguhnya kemenangan dan kejayaan itu hanyalah milik islam. Allahuakbar!!!

Friday, May 18, 2007

Surat Cinta Untuk Saudaraku

“Ukhuwah adalah degup penuh makna yang mengalir indah bersama aliran darah, berawankan ketsiqohan yang tiap tetesannya mampu menelusup jernih menembus karang prasangka dalam hati yang puncaknya berbuah keitstaran.”

Kepada Ikhwah Fillah yang kukasihi dan dikasihi Allah
Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh

Saudaraku…..ijinkan diri ini mambuka surat ini dengan permohonan maaf. Permohonan maaf kepada antum semua yang telah setia menemani berjuang di medan da’wah ini. Afwan pada ikhwah fillah semua atas semua kelalaian dan kesalahan yang ternyata telah mengurangi timbangan hak dalam menjalin ukhuwah dengan antum. Yang ternyata secara sadar telah mendzolimi antum, telah melukai antum, bahkan telah membuat antum menangis.

Saudaraku….
Marilah kita ingat sejenak. Ketika diri bersitegang dengan antum dalam majelis da’wah. Ketika diri acuh dalam pertemuan selintas. Ketika tanpa sadar keluar ucapan kasar dengan serapah. Ketika ada ganjalan yang menghujam kalbu. Ketika tiris dan hambar senyum terkembang. Ketika mengingkari antum dalam da’wah. Ketika secara sadar nilai maknawi telah ternodai.
Maafkanlah saudaramu ini. …. Ketika perasaan benar menguasai diri. Ketika merasakan kehadiran diri paling berarti. Ketika interaksi hanya sekedar basa-basi. Ketika diri merasa paling meramal. Ketika tangismu tak mampu kedekap. Ketika penderitaanmu hanya lewat sebagai berita.

Maafkan atas kesadaran yang terlambat. Menyadarai bahwa ada sebagian hak antum yang telah tersita. Maafkan atas kekerasan hati dan kelemahan jiwa karena kurangnya pengetahuan diri, karena keringnya ruhani, karena minimnya lapang dada. Maafkan atas ambisi yang besar dan perasaan mau menang sendiri. Maafkanlah atas empati yang tipis untuk mnegrti dan mengutamakan antum.

Ikhwatul iman….
Sekali lagi kesadaran ini baru kembali. Betapa akhuwah adalah pilar da’wah yang besar. Betapa ukhuwah adalah keutamaan. Batapa ukhuwah adalah warisan kemuliaan yang akan memuliakan siapa saja yang tergabung didalamnya. Betapa ukhuwah mampu meringankan beban kerja dan mampu menyemai makna dalam usia. Bahkan Rasulullah telah menetapkan ukhuwah sebagai salah satu manhaj da’wah.

Saudaraku…….
Sekali lagi kesadarn ini baru kembali. Antum adalah harta terbesar dalam hidup ini. Dengan senyum ikhlas antum, dengan kesabaran antum, dengan lapang dada antum, dengan semua perhatian antum, dengan jeweran-jeweran yang antum berikan saat diri ini mulai keluar dari haluan, bahkan dengan kemarahan dan sikap keras antum, semuanya adalah penguat tapak kaki dalam menempuh perjalanan da’wah yang penuh onak dan duri ini. Kini semua itu baru tersadari.

Saudaraku….
Hari ini tolong ingatkan diri ini akan pemahaman lama yang baru tersegarkan. Sesungguhnya sifat persaudaraan yang telah kita jalin, meletakkan kehormatan dan izzah seorang muslim sebagai kewajiban yang harus dipenuhi hak-haknya oleh saudaranya.

Maafkan diri ini yang telah menggugurkan kehormatan dan meluruhkan kemuliaan antum. Semoga rasa maaf antum mampu mengganti murka Allah. Menjadi air yang akan memadamkan gejolak api neraka, dan pelapang atas sempitnya hati yang merasa bersalah. Semoga rasa maaf antum menjadi penebus, prasyarat untuk menjadi pilihan Allah dalan jalan da’wah. Semoga dengan itu kemuliaan dan keutamaan senantiasa dianugerahkan Allah untuk kita semuanya.

Sekali lagi maafkan segala khilaf yang mewarnai setiap interaksi ukhuwah kita.Ya ikhwah….. da’wah yang kita bawa ini adalah da’wah yang tegak atas nama cinta. Da’wah yang tegak karena hati kita dihubungkan oleh cinta kepada Allah Rabbul ‘Alamiin. Da’wah yang ditegakkan dengan persaudaraan karena Allah, karena kita telah berjumpa dan berpisah karena Allah. Dan da’wah ini akan menjadi begitu kuat bila dipersatukan oleh aqidah yang dilekatkan dengan cinta.

Ya Allah…. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya pada-Mu. Bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari’at-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah…. Abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman fan keindahan bertawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifah kepad-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amiin.Ikhwah fillah…… ana uhibbukum fillah.

Wassalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh
(sumber : majalah Al-Izzah, edisinya lupa)